Tongkonan adalah rumah adat suku Toraja. Lucu ya namanya, tongkonan. Sekilas terdengar seperti tempat untuk duduk dan menonton sesuatu.

tongkonan 1

Tongkonan selalu menghadap ke utara. Foto: Dok. Kidnesia

Apa itu Tongkonan?
Berdasarkan asal katanya, “tongkon,” artinya memang menduduki atau tempat duduk. Tapi sama sekali tidak ada hubungannya dengan menonton hehehe. Tongkonan dikatakan sebagai tempat duduk karena merupakan tempat berkumpulnya para kaum bangsawan Toraja. Mereka biasanya duduk dalam tongkonan untuk berdiskusi mengenai masalah-masalah adat.

Bentuk tongkonan amat unik. Kedua ujung atapnya runcing ke atas mengingatkan kita pada rumah gadang dari Sumatera Barat. Ada yang mengatakan bentuknya seperti perahu dengan buritan tapi ada pula yang menyamakannya dengan tanduk kerbau.

Satu hal yang pasti, semua tongkonan Toraja mengarah ke utara. Arah tongkonan serta ujung atap yang runcing ke atas melambangkan bahwa mereka berasal dari leluhur yang datang dari utara. Ketika nanti mereka meninggal pun, mereka akan berkumpul bersama arwah leluhurnya di utara.

Selain bentuknya yang unik, tradisi tongkonan juga menarik lho. Menurut kisah setempat, tongkonan pertama dibangun oleh Puang Matua atau sang pencipta di surga. Dulu hanya bangsawan yang berhak membangun tongkonan. Selain itu, rumah adat tongkonan tidak dapat dimiliki secara individu tapi diwariskan secara turun-temurun oleh keluarga atau marga suku Toraja.

Macam-macam Tongkonan
Tongkonan juga diberi nama berdasarkan letak atau posisi tongkonan itu sendiri seperti contohnya Tongkonan Belo Langi yang berarti tongkonan tempat tertinggi. Nama tongkonan juga berdasarkan nama daerah seperti Tongkonan Garampa.

Pola hias, posisi atau letak tangga dan pintu, serta banyaknya ruangan juga memiliki arti secara sosial, ekonomi, dan religius magis. Contohnya saja, semakin banyak ruangan dalam tongkonan artinya semakin tinggi kedudukan tongkonan tersebut.

tongkonan 2

Atapnya seperti bentuk perahu. Foto: Dok. Kidnesia

Tongkonan dibagi ke dalam tiga macam berdasarkan kelas sosial, yaitu:

1. Tongkonan Layuk.
Tongkonan ini dibangun untuk orang berkuasa dan sebagai pusat pemerintahan. Ciri-ciri tongkonan ini adalah ukiran seperti hewan dan tumbuhan di dinding rumah. Selain itu ada pula hiasan kepala kerbau dan deretan tanduk kerbau. Kepala dan tanduk kerbau adalah penanda kemakmuran serta hidup berkelimpahan.

2. Tongkonan Pekamberan.
Ini tongkonan bagi keluarga yang dipandang hebat dalam adat. Ciri tongkonan ini sama dengan tongkonan layuk.

3. Tongkonan Batu.
Jenis ketiga ini adalah rumah bagi keluarga biasa. Tongkonan ini disebut banua oleh masyarakat setempat. Selain minim ukiran, banua juga tidak punya hiasan sehingga lebih mirip pondok bambu.

Membangun Tongkonan
Untuk mendirikan tongkonan, diperlukan waktu tiga bulan dengan sepuluh pekerja. Untuk mengecat dan dekorasi perlu tambahan satu bulan lagi. Waktunya lama karena seperti penjelasan Nesi di atas, setiap bagian tongkonan melambangkan adat dan tradisi masyarakat Toraja. Jadi tidak bisa sembarangan.

Bayangkan saja, konstruksi rumah adat Tongkonan terbuat dari kayu tanpa menggunakan unsur logam seperti paku sama sekali. Belum lagi ornamen rumah berupa tanduk kerbau serta empat warna dasar: hitam, merah, kuning, dan putih. Empat warna tersebut mewakili kepercayaan asli Toraja yaitu Aluk To Dolo.

tongkonan 3

Perhatikan ornamen tanduk & kepala kerbau, serta warna hitam merahnya. Foto: Dok. Kidnesia

Tiap warna harus digunakan dengan tepat karena melambangkan hal-hal yang berbeda. Hitam melambangkan kematian dan kegelapan, kuning adalah simbol anugerah dan kekuasaan ilahi. Warna merah adalah warna darah yang melambangkan kehidupan manusia. Sedangkan putih adalah warna daging dan tulang yang artinya suci.

Ornamen tanduk kerbau yang ada di depan tongkonan melambangkan kemampuan ekonomi satu keluarga. Setiap upacara adat di Toraja, terutama upacara pemakaman, menggunakan kerbau yang sangat banyak. Tanduk kemudian dipasang pada tongkonan milik keluarga mereka. Semakin banyak tanduk yang terpasang di tongkonan, semakin tinggi pula status sosial keluarga pemilik tongkonan tersebut.