Menyusur Bentang alam bumi Pacitan sepertinya tak akan pernah habis untuk digali. Keindahan panoramanya bak taman Surga yang masih perawan.

 

Salah satu bentang alam yang menyuguhkan keindahan taman surga itu adalah Luweng Jaran, salah satu keajaiban ‘taman’ bawah tanah di bumi Pacitan. Tepatnya di Dusun Kasri, Desa Jlubang, Kecamatan Pringkuku wilayah Pacitan ini berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian selatan.

 

Lokasi persisnya berada di perbukitan desa Jlumbang, 20 km dari kota Pacitan, ke arah Barat. Uniknya, goa yang sangat menantang ini justru diperawani bukan oleh penjelajah negeri sendiri, tapi tim ekspedisi dari Australia, pada tahun 1987.

 

Oleh aktifis pecinta alam khususnya penyusur goa, tempat ini disebut ‘surga’ petualangan. Sebutan itu memang tidak mengada-ada, Luweng Jaran menyajikan beragam keindahan, tantangan, sekaligus keajaiban.

 

Ornamen batu terhampar di setiap dinding goa, seolah relief gaib isyarat alam. Juntaian stalagtit dan stalagmit membentuk taman batu, basah, indah, sekaligus mempesona. Bentuk-bentuk ornamen batu yang bertonjolan di sepanjang lorong, adalah mahakarya alam tiada dua.

 

Dengan ukuran yang beragam, ada yang mirip manusia, binatang, menara, bahkan ada miniatur Grand Canyon. Karena Luweng Jaran merupakan goa aliran sungai (sungai bawah tanah), pintu masuknya berupa sungai.

 

Pada musim hujan, sebagian besar sungai bawah tanah itu banjir Telaga kecil dari kumpulan tetesan air yang nampak bening, mentransparankan dasarnya. Dalam kondisi seperti itu standar bahaya jadi meningkat. Bayangkan kalau terpeleset dan tercebur, bisa terseret arus dan tenggelam ditelan bumi.

 

Anehnya, dalam kepekatan goa yang basah itu, tumbuh tunas kelapa setinggi 1 meter. Pohon itu menyeruak begitu saja diantara himpitan batu dinding goa. Meski daunnya berwarna kuning, pohon itu hidup.

 

Sepanjang perjalanan menuju Luweng, kita disuguhi pemandangan conical hills, danau doline yang menjadi ciri khas dari daerah karst, disertai suara desiran angin laut yang tak jauh dari dusun itu.

 

Kenapa goa itu begitu menantang? Tak lain karena tingkat kerenggangannya. Perlu diketahui, goa yang berada di daerah Pacitan ini adalah goa yang tertutup untuk umum, dengan tingkat ‘keangkeran’ yang mempesona. Bayangkan, pintu goa hanya berupa lubang (luweng), yang seolah tanpa dasar, menganga membuka seukuran 3 x 5 meter.

 

Dari penjelajahan tim ekspedisi dari Australia itu, terungkap bahwa panjang goa itu mencapai 30 kilometer. Setelah turun dari mulut goa dengan panjang 35 meter, Anda akan ternganga, karena di depan mata terhampar ruang dengan luas mencapai 3 hektar, disertai bunyi gemericik air dan kilau batu stalagtit dan stalagmit.

 

Jika angin enggan bersuara, akan terdengar ritmis dari suara tetesan-tetesan air itu, seolah tenaga magis yang memancing tangis. Sebuah keindahan yang mengharukan.

 

Di ruang yang luas itu, akan kita lihat bertebaran lorong-lorong kecil perawan, dan belum pernah terjamah, sempit, lembab dan basah. Di tengah ruangan itu, terdapat telaga kecil dari kumpulan tetesan air yang nampak bening, mentransparankan dasarnya. Air juga tidak terlalu dingin, meski juga tidak hangat.

 

Batu-batu kecil yang ditampilkan, terasa begitu manis ditatapi dengan mata yang kekurangan sinar mentari. Menurut cerita, ekspedisi asing itu pernah menelusuri lorong utama, dan berjalan terus ke arah Barat. Mereka menarik garis lurus berdasarkan jarak tempuh dan terungkap bahwa goa itu memanjang terus hingga berada di bawah kecamatan Donorojo.

 

Wilayah yang hampir berbatasan dengan Jawa Tengah. Luar biasa! Keluarbiasaan itu belum berakhir, di lantai dan dinding goa, mata kita akan dikerlipi batubatuan mutiara yang menyinar tajam, memamerkan kilauannya. Tapi, jangan sembarangan memungut, karena salah bergerak sedikit saja, dinding kapur gua ini akan retak dan runtuh.

 

Inilah sebabnya gua ini masih sangat jarang dibuka untuk umum. Hanya para pecinta alam yang terlatih saja, dan dilengkapi peralatan lengkap yang diizinkan memasukinya. Bagi yang ingin memacu adrenalin, rasanya tak lengkap kalau tidak mencoba tantangan Luweng Jaran. Frend Mashudi