Wayang Beber Donorojo

1.    Sejarah Wayang Beber
Sejarah kelahiran wayang tidak bisa dilepaskan dari keberadaan kerajaan Majapahit. Wayang jenis ini dikenal pertama kali pada masa Majapahit, tepatnya saat kerajaan Bumi Trowulan  dipimpin Raden Jaka Susuruh. Raja ini  bergelar Prabu Bratana. Hal ini ditunjukkan dengan candrasengkala pembuatan wayang beber pada masa itu, yakni gunaning bhujangga sembahing dewa, yang menunjukkan tahun Saka 1283 (1361 M).
Saat itu wayang beber masih mengambil cerita wayang purwa. Bentuk wayang beber purwa sudah seperti yang ditemukan sekarang, yakni dilukis di atas kertas. Ketika dipergelarkan, kertas berlukiskan wayang tersebut digelar (Jawa: dibeber), dan bila sudah selesai digulung kembali untuk disimpan.
Pada zaman Majapahit, pergelaran wayang beber purwa di lingkungan istana sudah mengguakan iringan gamelan. Sementara pertunjukan di luar istana, tepatnya di lingkungan masyarakat biasa, hanya diiringi rebab (alat musik gesek khas Jawa). Di lingkungan keraton, pertunjukan wayang beber diadakan dalam rangka acara-acara khusus, seperti ulang tahun raja, perkawinan putra-putri raja dan sebagainya. Sementara di tengah-tengah rakyat kebanyakan, pergelaran wayang beber pada masa itu diadakan untuk kepentingan ritual, seperti ruwatan.
Saat Majapahit diperintah Prabu Brawijaya, tepatnya tahun 1378, bentuk wayang beber mengalami penyempurnaan. Brawijaya termasuk raja yang memiliki perhatian besar terhadap wayang beber. Ia memerintahkan kepada salah satu anaknya yang memiliki kepandaian melukis, yakni Raden Sungging Prabangkara, untuk menyempurnakan penampilan wayang beber. Lukisan wayang yang semula hanya hitam putih, oleh Sungging Prabangkara dibuat menjadi berwarna, sehingga penampilan wayang beber menjdi lebih hidup dan menarik. Proses penyempurnaan wayang beber ini terjadi tahun 1378 Masehi.
Wayang beber yang mengambil cerita Panji diperkirakan baru muncul pada zaman Mataram Islam(Islam), tepatnya pada masa pemerintahan Kasunanan Kartasura. Kala itu raja yang memerintah adalah Amankurat II (1677-1703). Hal itu juga disebutkan dalam salah satu tembang Kinanthi yang ada di Serat Centhini.
Wayang beber di zaman Mataram Kartasura di buat dari kertas lokal, yakni kertas Jawa dari Ponorogo. Cerita yang ditampilkan antara lain Jaka Kembang Kuning, salah satu episode cerita Panji. Kemudian pada masa pemerintahan Amangkurat III atau Sunan Mas, dilakukan penyempurnaan lagi terhadap lukisan wayang beber. Wajah dan pakaian yang dikenakan tokoh-tokoh utama, seperti Panji Asmarabangun dan Dewi Candrakirana, disesuaikan dengan penampilan Arjuna dan tokoh perempuan yang cantik sebagai tokoh-tokoh wayang purwa.
Selanjutnya pada era pemerintahan Sunan Paku Buwono II lukisan wayang beber di ubah lagi, terutama pada ilustrasi yang melatarbelakangi penampilan tokoh. Ilustrasi yang ada dikurangi dan disederhanakan, sehingga penampilan wayang beber menjadi lebih  klasik dan tidak rumit. Sosok tokoh menjadi kelihatan menonjol. Kisah cinta Panji Asmarabangun, oleh Paku Buwono II dibuat menjadi lakon Remeng Mangunjaya.
Pada masa Islam ini, para Wali di antaranya adalah Sunan Kalijaga wayang beber ini dimodifikasi bentuk menjadi Wayang Kulit dengan bentuk bentuk yang bersifat ornamentik yang dikenal sekarang, karena ajaran Islam mengharamkan bentuk gambar makhluk hidup (manusia, hewan) maupun patung serta diberi tokoh tokoh tambahan yang tidak ada pada wayang babon (wayang dengan tokoh asli India) diantaranya adalah Semar dan anak-anaknya serta Pusaka Hyang Kalimusada. Wayang hasil modifikasi para wali inilah yang digunakan untuk menyebarkan ajaran Islam dan yang kita kenal sekarang. Perlu diketahui juga bahwa Wayang Beber pertama dan masih asli sampai sekarang masih bisa dilihat. Wayang Beber yang asli ini bisa dilihat di Daerah Pacitan, Donorojo, wayang ini dipegang oleh seseorang yang secara turun-temurun dipercaya memeliharanya dan tidak akan dipegang oleh orang dari keturunan yang berbeda karena mereka percaya bahwa itu sebuah amanat luhur yang harus dipelihara.
2.    Dalang dan Pemilik Wayang Beber di Pacitan
Pemilik wayang beber di Pacitan adalah Bapak Sumardi atau yang dikenal dengan nama Mbah Mardi. Kini Mbah Mardi merupakan satu-satunya dalang Wayang Beber di Pacitan yang juga memiliki Wayang Beber warisan leluhurnya. Menurut penuturannya, Wayang Beber yang dimilikinya merupakan warisan leluhur, yang secara turun-temurun merupakan hadiah yang diberikan oleh Raja Brawijaya.
 Pada suatu hari Permaisuri Raja   Brawijaya menderita suatu penyakit, dan kemudian Raja Brawijaya mengadakan  sayembara untuk menyembuhkan penyakit permaisuri. Dan yang berhasil  menyembuhkan penyakit permaisuri adalah seorang dukun (tabib) yang bernama Mbah Nolodermo (yang merupakan leluhur dari Mbah Mardi). Sebagai ungkapan terimakasih, Raja Brawijaya memberikan hadiah berupa jabatan lurah Kediri, namun hadiah jabatanitu ditolak oleh Mbah Nolodermo, karena Mbah Nolodermo tidak bisa membaca ataupun menulis.
Kemudian Raja Brawijaya menawarkan hadiah berupa uang. Hadiah uang itu juga ditolak oleh Mbah Nolodermo dengan alasan bahwa jika diberi uang maka hadiah itu akan cepat habis. Maka Raja Brawijaya memberikan hadiah berupa Wayang Beber bagi Mbah Nolodermo dengan harapan bahwa Wayang Beber tersebut dapat menjadi sumber penghasilan secara turun-temurun.
Dalang sekaligus pemilik Wayang Beber yang sekarang dikenal dengan nama Mbah Mardi tersebut menjadi dalang sejak tahun 1982, dan masih aktif hingga kini. Namun, justru lebih banyak daerah luar kota Pacitan yang masih menggelar Wayang Beber ini. Wayang Beber cukup populer di mancanegara, misalnya di Jepang, Belanda, Perancis, bahkan di Perancis terdapat duplikat Wayang Beber ini. Seorang ilmuwan Perancis juga pernah meneliti bahan yang dipakai untuk mewarnai gulungan kertas Wayang Beber, yang ternyata berasal dari getah-getahan.
Silsilah pemilik sekaligus dalang dari Wayang Beber ialah:
1.  Nolodermo
2.  Nalongso
3.  Citrowongso
4.  Gondoyuto
5.  Singononggo
6.  Trunodongso
7.  Gondoleksono
8.  Poleksono
9.  Dipoleksono
10. Poleksono
11. Posetiko
12. Gunocarito / Sarnen
13. Sumardi
Pagelaran Wayang Beber tidak membutuhkan banyak peralatan khusus, alat-alat musik yang digunakan merupakan alat-alat musik yang cukup sederhana, tidak seperti pagelaran wayang lain. Namun dengan alat-alat musik yang sederhana ini, suasana mistik dan sakral dapat dirasakan cukup kuat, terutama alunan rebab.
Tempat untuk menancapkan tongkat penggulung gulungan Wayang Beber menjadi satu dengan tempat menyimpan gulungan Wayang Beber tersebut. Bentuk tempat penyimpanan gulungan Wayang Beber tersebut juga cukup unik dan berkesan sederhana namun sakral. Karena merupakan warisan turun-temurun, bahan membuat gulungan Wayang Beber sampai saat ini tidak diketahui oleh dalang sekaligus pemiliknya yaitu Mbah Mardi. Namun duplikat dari gulungan Wayang Beber ini kertasnya menggunakan kertas merang yang kemudian diolah lagi sehingga permukaannya dapat digambar dan diwarnai dengan baik.
3.   Pementasan Wayang Beber
Wayang Beber hanya dipentaskan untuk upacara ruwatan atau nadar saja. Wayang ini berbentuk lukisan di atas kertas, dengan roman seperti wayang kulit purwa hanya kedua matanya nampak. Sikap wayang bermacam-macam, ada yang duduk bersila, sedang berjalan, sedang berperang dan sebagainya.
Sebelum melakukan pagelaran Wayang Beber, harus dilakukan semacam ritual untuk menghormati leluhur. Ritual itu berupa pembakaran dupa dengan adanya persembahan atau sesajen. Ritual pembakaran dupa tersebut sambil diringi oleh doa yang dilakukan oleh dalang, baru kemudian Wayang Beber dapat  dimainkan dengan cara dibuka satu pesatu atau digelar/dibeber.
Satu gulungan berisi 4 adegan, sehingga ketika adegan pertama diperlihatkan maka adegan ketiga sampai keempat masih dalam posisi tergulung. Kemudian jika berpindah dari gulungan satu kegulungan selanjutnya, maka pasak di sebelah kanan dalang dilepas terlebih dahulu, kemudian pasak gulungan yang baru dipasang, selanjutnya membuka gulungan baru sambil menutup gulungan sebelumnya, dan terakhir memasang pasak pada tempat penyimpanan Wayang Beber tersebut.
Dalang menceritakan cerita yang terlukis di gulungan Wayang Beber tersebut dengan menggunakan Bahasa Jawa dengan posisi membelakangi Wayang Beber, atau menghadap penonton. Dan untuk menutup pagelaran Wayang Beber ini, dalang mematikan dupa sambil membaca doa.
Dilihat dari bentuk pertunjukannya, wayang beber termasuk pentas seni tradisional sederhana yang hanya terdapat beberapa unsur yang menjadi pendukungnya, yakni:
  •   Seperangkat wayang yang terdiri dari enam gulungan dan masing-masing gulungan terdiri dari empat adegan.
  •   Seperangkat gamelan yang terdiri dari gong, kenong laras slendro, kendang, dan rebab.
  •   Niyaga, terdiri dari empat orang.
  •   Lakon atau cerita wayang beber yang hanya memiliki satu siklus cerita saja.
Urutan pertunjukkan :
  •     Dalang membakar kemenyan, kemudian membuka kotak dan mengambil tiap gulungan menurut kronologi cerita.
  •     Dalang membeberkan gulungan gulungannya pertama dan seterusnya, dengan membelakangi penonton.
  •     Dalang mulai menuturkan janturan (narasi).
  •     Setelah janturan, mulailah suluk (Lagu penggambaran) yang amat berbeda dengan umumnya suluk wayang purwa.
  •     Setelah suluk, dimulailah pocapan berdasarkan gambar wayang yang tengah dibeberkan. Begitu pula seterusnya sampai seluruh gulungan habis dibeberkan dan dikisahkan.
Seluruh pertunjukkan diiringi dengan seperangkat gamelan Slendro yang terdiri dari rebab, kendang batangan, ketuk berlaras dua, kenong, gong besar, gong susukan, kempul. Penabuhnya cukup 4 orang saja yakni sebagai penggesek rebab, petigendang, penabuh ketuk kenong, dan penabuh kempul serta gong. Patet yang digunakan hanya patet nem dan patet sanga.
Lama pementasan hanya sekitar satu setengah jam saja, dapat dilakukan siang hari ataupun malam hari.
Setiap pagelaran wayang beber harus ada sesaji yang terdiri dari kembang boreh, ketan yang ditumbuk halus, tumpeng dan panggang ayam, ayam hidup, jajan pasar (kue-kue) dan pembakaran kemenyan. Untuk upacara ruatan atau bersih desa perlu ada tambahan sesaji berupa sebuah kuali baru, kendi baru dan kain putih baru.
4.    Fungsi dan Makna Pertunjukan Wayang Beber
Fungsi pertunjukan Wayang Beber meliputi fungsi ritual, fungsi sosial, serta fungsi budaya. Dari ketiga fungsi ini yang paling dominan di masyarakat adalah fungsi ritulnya, dikarenakan keyakinan bahwa Wayang Beber memiliki kekuatan magis yang dapat membantu tercapainya cita-cita seseorang.
Pertunjukan Wayang Beber Pacitan, juga memiliki makna bagi masyarakat yang masih mempercayai kukuatan magis. Fungsi dan makna sosial budaya, Wayang Beber adalah sebagai salah satu kontrol sosial, moral, pendidikan serta sebagai panutan, yang memiliki arti yang penting bagi masyarakat di sekitarnya. Tidak kalah penting adalah makna ritual, sebab masyarakat masih mempercayai hal-hal yang magis. Pertunjunkan Wayang Beber memang sangat erat hubungnya dengan masalah-masalah ritual dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang masih memegang teguh kepercayaan animisme dan dinamisme.
  Kesimpulan
Wayang Beber adalah seni wayang yang muncul dan berkembang di Jawa pada masa pra Islam dan masih berkembang di daerah daerah tertentu di Pulau Jawa. Dinamakan wayang beber karena berupa lembaran lembaran (beberan) yang dibentuk menjadi tokoh tokoh dalam cerita wayang baik Mahabharata maupun Ramayana.
Konon oleh para Wali di antaranya adalah Sunan Kalijaga wayang beber ini dimodifikasi bentuk menjadi Wayang Kulit dengan bentuk bentuk yang bersifat ornamentik yang dikenal sekarang, karena ajaran Islam mengharamkan bentuk gambar makhluk hidup (manusia, hewan) maupun patung serta diberi tokoh tokoh tambahan yang tidak ada pada wayang babon (wayang dengan tokoh asli India) diantaranya adalah Semar dan anak-anaknya serta Pusaka Hyang Kalimusada. Wayang hasil modifikasi para wali inilah yang digunakan untuk menyebarkan ajaran Islam dan yang kita kenal sekarang. Perlu diketahui juga bahwa Wayang Beber pertama dan masih asli sampai sekarang masih bisa dilihat. Wayang Beber yang asli ini bisa dilihat di Daerah Pacitan, Donorojo, wayang ini dipegang oleh seseorang yang secara turun-temurun dipercaya memeliharanya dan tidak akan dipegang oleh orang dari keturunan yang berbeda karena mereka percaya bahwa itu sebuah amanat luhur yang harus dipelihara.
sumber :
http://yoga-blognyacahbagoes.blogspot.com/
http://digilib.umm.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jiptummpp-gdl-s1-2008-luqmanharo-14032&PHPSESSID=42d6ee65b827a38f44956092d28ba985
http://www.sastra-indonesia.com/2010/06/wayang-beber-hanya-ada-di-daerah-pegunungan/
http://wayang.wordpress.com/2006/10/27/wayang-beber-pacitan/

7 Comments (+add yours?)

  1. mazandri
    Dec 14, 2012 @ 13:34:58

    ijin share ya gan…..

    Reply

  2. pacitanisti
    Dec 25, 2012 @ 02:15:32

    Reply

  3. perdiwibowo
    Dec 26, 2012 @ 05:16:51

    kakek saya salah satu keturunan yang memiliki wayang keber tersebut, setiap bulan suro dibuka, tapi aq sendiri sebagai cucunya belum pernah melihat secara langsung.

    Reply

  4. saifurroyya
    Oct 26, 2013 @ 02:26:38

    Sebuah karya seni orang-orang hebat zaman dahulu…

    Reply

    • pacitanisti
      Nov 05, 2013 @ 09:07:48

      sekarang sudah mulai tidak keliahatan./….

      Reply

  5. Wisnu Suharnoko
    Jan 10, 2014 @ 19:11:39

    Melengkapi dasar sejarah Wayang Beber.
    – Dalam buku Ying-Yai Sheng-Lan oleh Ma-Huan Tahun 1431, memang tertulis di situ Wayang Beber adalah kebudayaan Majapahit.
    – Candra Sengkala diatas, (konon) terdapat pada buku ‘Sastro Mirudo’. Saya belum dapat referensi buku tersebut ditulis oleh siapa dan pada tahun berapa (apalagi membacanya), namun, tahun 1283 Caka adalah tahun Alip Windu Sancaka bila dikonversikan ke tahun Masehi adalah sekitar tahun 1369-1370M.

    Sayang sekali di postingan Anda tidak disebut Brawijaya yang keberapa yang permaisurinya sakit. Seandainya yang dimaksud adalah Brawijaya Pamungkas, maka pendapat saya Eyang Nolodermo (Nolodermo bukan nama kalangan ‘pidak pejarakan’) adalah orang asli Majapahit yang ikut menjadi pengiring saat Brawijaya Pamungkas menyingkir beserta seluruh pengikutnya yang setia para elit pemerintahan Majapahit, ada banyak, kemudian mereka menetap di Donorojo (Wedono Rojo = Keluarga Raja), sedangkan Brawijaya Pamungkas sendiri kemudian di suaka oleh Kudamerta / Bhre Wengker / Wijayarajasa (Buku Babad Tanah Jawi dan Pararaton)

    Dari hal diatas, kesimpulannya adalah
    Karena masyarakat Donorojo (Pacitan) adalah keturunan dari Majapahit yang justru kalangan elit pemerintahannya – para Bangsawan, ahli pemerintahan, ahli kesenian, ahli pegobatan dan Wayang Beber adalah milik Majapahit, maka MEMANG Wayang Beber tersebut milik Pacitan.

    Reply

  6. pacitanisti
    Jan 20, 2014 @ 23:55:33

    terima kasih atas penambahannya…🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: